sumber: http://edukasi.kompas.com
Live-in PSIK yang diadakan pada tanggal
31 Mei 2017 yang lalu mengajarkan saya banyak hal, bukan hanya membuka kepekaan
diri saya untuk social mapping terhadap
lingkungan yang baru tapi juga mengajarkan saya apa arti masyarakat yang sesungguhnya
‘berdaya’. Berdaya menurut KBBI adalah berkekuatan;
berkemampuan; bertenaga; dan mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi
sesuatu dan sebagainya. Di sinilah letak tanya, dalam taraf apa sesungguhnya
manusia bisa dikatakan ‘sudah berdaya’ atau sejahtera? Saat ia sudah mapankah? Atau
berkeluarga dan hidup dalam rumah yang mewah? Masyarakat Desa Troso, Kecamatan
Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah ini mengajarkan saya sesuatu yang jauh dari
semua pertanyaan di atas. Namun, sebelum membahas semua ini, ada baiknya kita
mengenal dulu latar belakang Kecamatan Pecangaan serta keluarga Bapak Rohani,
seorang pekerja tenun yang rumahnya kami singgahi selama beberapa hari.
Kedatangan
saya disambut oleh seorang bapak yang sudah sesepuh, ia adalah seorang penjaga
masjid di Pecangaan tersebut, namun sayang saya lupa namanya. Dari kalimat
pertamanya, saya merasakan keramahan yang ditawarkan dari warga setempat pada
tamu yang asing, dengan santainya ia berbincang-bincang tentang hidupnya,
terbuka secara sepenuhnya pada seseorang yang baru dikenalnya. “Sudah tugas
sesepuh di sini untuk memulai suatu pembicaraan, kita yang tua sudah seharusnya
berbagi pengalaman dek” katanya sambil tertawa. Semakin saya terbawa dalam
pembicaraan pagi itu, semakin terbuka pikiran saya terhadap kondisi Pecangaan
saat itu. Kawasan perindustrian mebel dan tekstil mulai banyak bermunculan di
kawasan tersebut dan kebanyakan dari mereka adalah perusahaan asing. Kebanyakan
dari sumber daya manusia yang dipekerjakan oleh perusahaan tersebut adalah
wanita, dikarenakan wanita dianggap lebih teliti terhadap hal-hal kecil dan
detail sehingga tiap pagi dari jam 6-8 pagi jalanan depan masjid tadi selalu
ramai akan wanita-wanita yang mengendarakan motor menuju tempat kerja mereka.
Perlahan ia mulai membicarakan mengenai
keluarganya. Anaknya yang paling besar ternyata sedang berjuang menghadapi tes
masuk Institut Seni Indonesia Yogyakarta, namun ia dan keluarganya kurang paham
dengan teknis pendaftaran online dan
segala macamnya, nampaknya mereka belum terlalu akrab dengan kegiatan yang
berbasis online technology. Dari 3
orang anaknya, hanya yang nomor dua yang mendaftar di perguruan tinggi,
ternyata konsep kehidupan pekerjaan masyarakat Pecangan sangat sederhana,
mayoritas memilih untuk langsung kerja ketimbang kuliah terlebih dahulu
sehingga lebih banyak yang masuk di SMK daripada SMA, mayoritas yang memutuskan
kuliah juga memilih untuk tidak merantau dan kuliah di luar kota, hanya sekitar
2 dari 10 anak yang memutuskan untuk kuliah dan merantau keluar dari Pecangaan.
Hal ini mendukung fakta bahwa kebanyakan dari pekerja wanita di pabrik-pabrik
tekstil masih berumur 16-20 tahun.
Di luar pemikiran mereka tentang dunia
perkuliahan, ada satu hal yang mereka punya dan masyarakat metropolitan tidak,
yaitu semangat persaudaraan yang tinggi. Walau tidak ada kerja bakti, mereka
bisa mengenal satu sama lain bahkan membantu tetangganya di saat mereka sedang
kesusahan. Hal ini juga didukung oleh banyaknya acara di masjid seperti teraweh
bersama dan buka puasa bersama yang mempererat tali silaturahmi, dan di sinilah
tugas sesepuh desa untuk merangkul anak-anak mudanya untuk berbagi pengalaman.
Nampaknya seperti apapun kita mencoba, masyarakat di kota metropolitan tidak akan
memiliki semangat yang sama seperti masyarakat desa, entah mungkin beban kerja
yang berat atau stress penyebabnya.
Setelah itu kita berkenalan dengan Bapak
Rohani, seorang pedagang kain tenun yang tertua di Desa Trosso. Dari sekian
banyak desa di Pecangaan, Desa Trosso adalah desa yang paling terkenal dengan
hasil tenunnya. Harga barang yang lebih murah dari harga kota, aksesibilitas
yang lumayan dengan Indomart dan SPBU Pertamina relatif dekat, jalan raya
kecamatan yang selalu diperbaiki dengan rutin, dan lingkungan yang mendukung
menjadikan Desa Trosso salah satu destinasi untuk memulai kehidupan baru di
pedesaan. Letaknya yang strategis menyebabkan kebutuhan pangan dapat dikirim
dengan mudah, seperti ikan yang diimpor dari Pelabuhan Jepara dan Demak, serta
ayam yang dikirim dari peternakan ayam di Kudus. Masyarakatnya pun cukup modern
dengan kendaraan roda dua dan roda empat yang sudah dimiliki beberapa warga di
Desa Trosso membuat mereka dengan mudah kerja di luar kota ataupun mengirim
barang-barang dagangan ke luar, selain itu hasil tenun juga dipasarkan melalui
media online yang sudah dikuasai oleh
beberapa masyarakat Desa Trosso sehingga pengiriman bisa dari Thamrin,
Semarang, Bali, hingga ke luar negeri.
Saya merasakan rasa toleransi yang kuat
dari masyarakat di Desa Trosso. Beberapa teman saya beserta saya sendiri yang
non-muslim tidak merasa terkucilkan di daerah yang mayoritas bahkan hampir
semuanya muslim, namun kami dirangkul oleh mereka walaupun saat itu kebetulan
sedang bulan puasa. Memang persaudaraan di atas perbedaan, kata mereka. Mereka
juga mengikuti politik yang sedang hangat, terutama masalah Ahok, namun tidak
ada yang merespon dengan fanatik menyangkut masalah sosial-politik Indonesia.
Mereka lebih memikirkan bagaimana cara menjalani hidup mereka masing-masing
ketimbang mengurusi hidup orang lain. “Ngurusi diri saja belum benar mau kritik
orang lain, mending diem saja dek” kata Pak Rohani sembari merokok di halaman
depan rumahnya.
Lalu makin hari kami makin masuk ke
dalam kehidupan sehari-hari keluarga Bapak Rohani, Mereka dapat dikatakan
sebagai keluarga yang tidak tergolong sederhana, cukup berkelimpahan dengan
bisnis yang mereka jalani. Bapak Rohani memiliki beberapa buah alat tenun yang
dia buat sendiri tanpa latar belakang pendidikan yang menurut saya memadai,
alat tersebut jg dimiliki oleh beberapa buruh tenun di daerah tersebut sehingga
kebanyakan pekerjaan tenun dapat dibawa pulang ke rumah masing-masing
karyawannya.
Teman saya Jeremy H. Limbong dengan alat-alat tenun milik Pak Rohani
Teman saya Christoforus B.T.H. sedang mewarnai kain hasil tenunan Pak Rohani
Tiap pagi, mereka membeli bahan pangan di pasar keliling yang tergolong
cukup lengkap dengan sayuran dan proteinnya. Bapak Rohani dan istrinya memiliki
3 anak yang semuanya sudah menikah dan mempunyai anak. Cucunya yang paling
kecil bernama Bian (3 tahun) sempat tinggal di rumahnya dan bermain bersama
kami, sedangkan cucu-cucu lainnya tersebar di daerah Pecangaan, tidak begitu
jauh dari rumahnya. Bapak Rohani sering bercerita pengalamannya yang menurut
saya sangat luas dari segi makna hidup dan koneksi yang ia punya. Ia pernah
bercerita bahwa dalam sehari ia bisa mendapat laba sekitar 70 juta dari
penjualan tenunnya di Thamrin, namun sekarang sejak zaman Pak Jokowi, laba yang
didapat . bisa menurun sekitar 70%. Penurunan besar itu dapat ditangani dengan
kerjasama Pak Rohani dengan pihak-pihak lain seperti pengusaha kain di Bali dan
luar negeri sehingga tidak terlalu merasakan kerugian.
Setelah mendengar beberapa kisah hidup
dan kondisi masyarakat Pecangaan, beberapa pemikiran datang menghantam saya.
Seperti yang telah saya tulis di atas mengenai konsep masyarakat yang berdaya, sekarang
pertanyaannya adalah apakah masyarakat Pecangaan dapat dikatakan belum
sejahtera dan berdaya? Kita tinjau dari segi pendidikan, mungkin dilihat dari
kondisi mayoritas masyarakat yang SMK lalu lanjut ke dunia pekerjaan kita dapat
berasumsi bahwa mereka memiliki ilmu pengetahuan yang minim. Namun, nyatanya
wawasan mereka sangatlah luas, dapat dilihat dari mesin-mesin tenun yang mereka
buat secara otodidak yang menurut saya sangat luar biasa rumitnya. Bahkan masyarakat Desa Trosso mempunyai rencana untuk memecahkan rekor Nuri dengan membuat sepanjang jalan kecamatan itu penuh dengan 350 penjahit tenun, hal ini dilakukan untuk menarik perhatian kementrian pariwisata Indonesia yang mengakibatkan Desa Trosso ramai dijadikan destinasi wisata, suatu kegiatan yang timbul dari buah pikiran masyarakat yang katanya kurang berpendidikan, tapi nyatanya lebih kreatif dari masyarakat biasanya.
Jika ditinjau dari segi ekonomi, mungkin
kita bisa berprasangka bahwa secara finansial mereka hanya sebatas cukup, tidak
bisa merasakan hidup yang mewah seperti kehidupan perkotaan, namun kenyataannya
kecukupan itulah yang membuat hidup mereka bahagia. Kebahagiaan membeli
sayur-sayuran di pasar ataupun menanam sendiri, kebahagiaan berbagi hasil
buah-buahan yang sudah matang dengan tetangga, kebahagiaan yang muncul dari
suasana kekeluargaan buka bersama di masjid, mungkin bagi mereka cukup itu
sederhana, dan sederhana itu bahagia, karena saya sama sekali tidak melihat ada
keluhan dan umpatan yang mereka ucap. Fakta bahwa bisnis tenun mereka bisa bertahan hingga 60 tahun lebih adalah tak lain buah dari usaha dan kerja keras mereka, disertai dengan pemikiran yang kreatif. Mungkin mereka kurang menguasai dunia perteknologian, namun dengan metode online market mereka mampu memilih pasar yang cocok dan mendapat pembeli dari mancanegara, bahkan pembeli tetap sekalipun, kemampuan mereka memilih pasar dan pembeli ternyata secara faktual tidak serendah dari yang terlihat.
Sekarang saatnya berkaca, kadang kita
menetapkan suatu standar kesejahteraan atau suatu perimeter keberhasilan
seseorang dikatakan berdaya, padahal dalam kenyataannya mereka sudah merasa
lebih berdaya dan lebih sejahtera dari kita sendiri. Hal ini mengarah pada
kegiatan pemberdayaan manusia yang salah. Sama seperti cara pemerintah yang
mayoritas menggunakan metode Rapid Rural
Aprraisal (RRA), metode yang menganalisis dengan cepat, menyimpulkan
masalah dengan penginderaan jarak jauh sehingga menghasilkan suatu output bagi masyarakat yang secara
kenyataan mungkin tidak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, tapi apa yang
menurut kita mereka butuhkan. Hal ini membuat manusia makin lama merasa dirinya
sudah cukup pintar untuk menyelesaikan suatu masalah dengan mengusulkan solusi
yang menurut dirinya terbaik, padahal kehidupan adalah proses saling belajar,
terutama dalam kehidupan bersosial. Sama seperti live-in ini, metode kita
melakukan pendekatan empiris dengan berdialog dan merasakan kehidupan mereka
(Participatory Rural Appraisal/PRA) adalah cara terbaik dalam menentukan solusi, karena pada akhirnya semua
bergantung pada subjektivitas dan
perasaan, menentukan mana yang baik bagi masyarakat dan mana yang tidak
dibutuhkan walaupun sebenarnya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk output yang lebih baik. Hal ini menuntun
pada metode yang benar dalam melakukan pengabdian masyarakat yang intensif,
untuk turun langsung terlebih dahulu dan rasakan kehidupan masyarakatnya,
barulah kita tahu harus bagaimana kita berpikir dan bertindak.
Sekaranglah saatnya kita untuk berhenti berdiam diri dan mulai bertindak apabila memang kita ingin membantu mengubah dunia menjadi yang lebih baik.



Komentar
Posting Komentar