“In the beginning, God
created the earth, and he looked upon it in His cosmic loneliness.
And God said, "Let Us
make living creatures out of mud, so the mud can see what We have done."
And God created every living creature that now moveth, and one was man. Mud as
man alone could speak. God leaned close to mud as man sat up, looked around,
and spoke. Man blinked. "What is the purpose of all this?" he asked
politely.
"Everything must have
a purpose?" asked God.
"Certainly,"
said man.
"Then I leave it to
you to think of one for all this," said God.
And He went away.” ―
Kurt
Vonnegut, Cat's Cradle
Tidakkah membaca sedikit kata-kata abstrak di atas membuat
Anda berpikir? Sebenarnya misi hidup kita sebagai manusia terletak pada
kebebasan kita untuk memilih atau kehendak Tuhan? Apakah selama ini Anda
menjalani hidup Anda dengan sebaik mungkin? Apakah Anda mencari jati diri Anda
dan menemukan jawabannya jauh di dalam diri Anda sendiri? Ataukah Anda menerima
keadaan apa adanya dunia, menyerah pada keadaan dengan ketiadaan pegangan
hingga pada akhirnya menyerahkan diri Anda sepenuhnya pada kehidupan, pasrah
mengikuti arus alirannya?
Selama 18 tahun saya hidup, saya merasa bahwa terkadang
ada saatnya hidup memberi kita banyak tantangan dan beban yang harus dipikul.
Hal-hal ini membuat kita buta akan arah, melupakan pertanyaan filosofis di atas
dan menyerahkan diri kita berlindung begitu saja pada dunia, entah kemana kita
akan dibawa, entah kemana niat kita untuk menemukan tujuan hidup kita saat itu.
Selama ini kita bekerja, bekerja, dan bekerja hingga lupa akan misi hidup kita
yang sebenarnya terletak jauh di dalam diri Anda sendiri, semakin lama semakin
tertimbun oleh beban duniawi dan luka-luka yang kita dapat dari mencoba
menggali hal tersebut.
Untuk menggapai misi tersebut diperlukan suatu rangsangan
dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Terkadang tanpa sadar lingkungan
membentuk kita, entah itu semakin mengarahkan hidup Anda pada arah yang sama
dengan tujuan awal Anda, atau bahkan membawa Anda menjauh, memberikan Anda
pilihan hidup yang tak mudah.
Kisah saya ini menceritakan sedikit dari apa yang menjadi
rangsangan saya untuk meniti hidup dan mencari jati diri saya, yaitu alam. Alam
yang saya lihat, dengar, dan rasakan, adalah alam yang hidup, suatu lingkup
sinergis antara bumi dan manusianya. Kehadiran saya di alam memberikan saya
suatu penglihatan akan tujuh warna dunia
yang menurut saya menjadi warna-warna dasar dari pembentukan suasana dan
karakter manusia di kehidupan mereka, silahkan nikmatilah kisah perjalanan ini.
Bagian 1 : Tertuntun Rindu
Saat itu bulan Desember 2016, salah satu fase terberat
dalam hidup saya, ujian menghampiri saya dari berbagai arah, tuntutan
perkuliahan yang menumpuk, kebutuhan fakultas yang berteriak ingin dipenuhi.
Suatu ketika, dengan secangkir kopi di tangan, saya merasa ada yang hampa dalam
diri saya, rupanya hati saya merindukan alam, seperti pikiran saya merindukan
kesunyian. Di sinilah saya melihat warna kehidupan yang pertama, warna hijau, warna yang saya ilhami
dari kerinduan saya akan alam. Warna hijau melambangkan kehidupan, warna penuh kesunyian
dan ketenangan, warna yang memberikan efek keseimbangan terhadap jiwa dan raga,
warna yang terletak jauh dari perkotaan, tempat kondusif untuk mencari jati
diri Anda. Warna ini yang mendorong saya untuk meninggalkan segala hiruk-pikuk
kehidupan dan memutuskan untuk melakukan perjalanan alam ke Gunung Sumbing dan
Slamet dalam sekali perjalanan.
Saya pun mengundang serta beberapa teman seperjalanan,
Felix Harly (Poka), Agustinus Valen (Ocit), Dillon Abraham, Esther Christie,
dan Shania Jemima. Mereka adalah sedikit dari beberapa teman yang membuat
perjalanan seberat apapun terasa ringan. Sudah berapa senja saya nikmati
bersama canda tawa mereka sehingga ketidakhadiran mereka dalam suatu pendakian
rasanya hampa.
Bagian 2 : Pendakian Gunung Slamet
Pada hari Jumat, 6 Januari 2017, perjalanan ‘hidup’ saya
pun dimulai. Berangkat bertiga dari Stasiun Pasar Senen, saya, Felix Harly
(Poka), dan Agustinus Valen (Ocit) pun siap untuk mencari makna dan memburu warna.
-Stasiun Pasar Senen-
Dari kiri: Valen (Ocit)
, saya, Felix (Poka)
Perjalanan pun cukup lama, sekitar 10 jam kita memutari
kota hingga sampai di Stasiun Purwokerto, dimana kita dijemput oleh Kang Didin,
salah satu penanggung jawab dari Basecamp Slamet Jalur Bambangan. Perjalanan
kita dari Stasiun Purwokerto hingga Basecamp Slamet memakan waktu yang lama,
namun tiap detiknya kita habiskan dengan perbincangan seru bersama Kang Didin.
Semakin saya mengeluarkan pertanyaan semakin saya merasakan seluk-beluk kehidupan
sosial di daerah sana, mulai dari bagaimana cara masyarakat sekitar mencari
nafkah hingga larangan dan kepercayaan warga sekitar.
Basecamp Slamet sendiri seperti rumah biasa, diurus oleh
beberapa warga sekitar. Tempatnya nyaman, seperti rumah sendiri dengan jamuan dan
teh manis hangat yang selalu siap sedia selama 24 jam. Warga Bambangan sendiri
sangatlah ramah, setiap pertemuan kami dengan orang-orang baru pasti selalu
ditandai dengan sapaan dan senyuman. Sangat mengherankan, beda sekali dengan
orang-orang Kota Metropolitan yang terbutakan oleh ego dan kesibukan pribadi,
tak pernah sekalipun melihat kanan – kirinya. Malam itu kami memutuskan untuk
beristirahat dan menyiapkan diri untuk pendakian esok pagi.
Dari kiri: Saya, Valen (Ocit), Felix (Poka), Dillon
Esok paginya kita pun berangkat, pertama-tama mendaftar
ke pos pendaftaran kurang lebih 50 m dari basecamp, cuma agak menanjak. Setelah
mendaftar, kita diberi bibit tanaman sejumlah pendaki yang naik untuk dibawa
dan ditanam di pos bayangan tepatnya di lapangan luas jauh sebelum pos 1.
-Gerbang Pendakian Gunung Slamet-
Dalam perjalanan saya bertemu dengan banyak orang
menarik, penuh dengan keunikan dan karakter yang berbeda-beda. Memang dunia ini
banyak warna, sama seperti manusianya. Satu yang sangat menarik perhatian saya adalah
seorang anak kecil polos yang tidak membawa apa-apa kecuali tongkat dan kupluk.
Setiap langkah dia pijak dengan senyum di mulutnya dan semangat di matanya,
andai masa kecil saya bisa seindah itu, mengenal alam sejak dini, menemukan
kedewasaan dalam indahnya alam seiring bertambahnya usia.
Jalanan ke pos 1 cukup menantang, bukan karena
tanjakannya, namun karena jauhnya. Saya berempat berjalan seperti melihat
pohon-pohon yang sama, namun kita terus berjalan dengan harapan pos 1 sebentar
lagi di depan mata. Sesampainya di pos 1, saya berkenalan dengan Ibu Dika,
seorang penjual makanan yang setia menemani pendaki di pos 1. Sosok keibuannya
membuat kita lupa waktu saat berbincang-bincang bersamanya, terutama tentang
hidup. Kita lalu pamit dengan janji bahwa kita akan meluangkan lebih banyak
waktu untuk mengobrol dengannya saat perjalanan turun, lalu kita pun lanjut
pendakian menuju pos 2.
-Pos 1 Pondok Gemirung-
Perjalanan ke pos-pos berikutnya saya akui sangat
menguras tenaga, mungkin karena kita semua jarang latihan fisik lagi untuk
persiapan pendakian yang seperti ini (atau biasa orang bilang udah ‘tua’).
Lawakan-lawakan garing selalu terucap dengan keterpaksaan kita untuk tertawa,
namun entah kenapa lama-lama menjadi satu hal yang lucu dan menambah semangat
kami untuk terus melangkah.
Sesampainya di pos 6 cuaca sudah mulai kurang mendukung
sehingga kami memutuskan untuk membuat camp, letaknya agak pojok, terpencil
dari jalan pendakian. Seperti biasa, camp adalah saat – saat favorit saya.
Bukan karena istirahatnya, tapi karena momen-momen di dalamnya. Bayangkan, kami
punya waktu sekitar 9 jam untuk beristirahat diiringi alunan lagu dari rumput
dan dedaunan yang bergesekan, dihias dengan keindahan pemandangan lampu-lampu
kota, dibalut dengan angin malam yang secara sepoi-sepoi menyapa. Yah bisa
dibilang waktu paling enak untuk membuat
kopi dan merenung tentang hidup.
Bagi saya tak ada tempat paling enak untuk merenungkan
hidup selain di gunung, menutup mata sejenak, menikmati semuanya, mendengarkan
degupan hati dan hembusan napas, lalu merefresh kembali semua pengalaman baik
yang telah didapat hari itu dan menerapkannya ke dalam pertanyaan hidupmu. Semuanya
akan mengalir indah dalam pikiranmu seperti rol film yang memutar tiada henti,
satu persatu pelajaran hidup yang Anda terima akan silih berdatangan, tinggal
keputusan Anda untuk mengambil yang baik dan menyimpan yang buruk. (Saya tidak
pernah menyarankan untuk membuang sesuatu yang buruk karena saya percaya semua
pengalaman ada maknanya entah itu baik atau buruk, semua bisa dijadikan
pegangan Anda di masa depan).
Saya selalu mengambil sedikit waktu untuk melakukan
hal-hal di atas, dimana alam akan memberikan saya warna kehidupan yang baru, warna biru. Warna ini adalah warna langit
dan samudra yang melambangkan ketenangan dan kejernihan pikiran, warna yang
mendukung kenyamanan diri saya saat berada di alam dimana saya bisa berkonsentrasi
secara penuh untuk berpikir, situasi yang saya tidak pernah dapat di kota.
Subuhnya, kami bangun dan bersiap untuk menikmati sunrise
di puncak sana. Setelah beberes, kita pun berangkat, menerpa angin malam dan
menghemat oksigen sembari melihat lampu kota yang makin mengkilap indah. Puji
Tuhan rasa capek kita pun akhirnya terbayar dengan pemandangan sunrise yang
luar biasa indah di Puncak. Slamet. Keindahan sunrise yang selalu membuat
semuanya terpana melambangkan warna yang ketiga, warna jingga. Warna jingga ini melambangkan warna senja, warna
petualangan dan keceriaan. Warna ini memiliki daya tarik kuat untuk merangsang
pandangan mata, melambangkan keindahan, keagungan, kelemahlembutan, dan kehangatan
dari sang surya. Kita pun bersantai sebentar di atas sana, menyaksikan
pemandangan dan menangkapnya seperti kamera menangkap foto yang siap untuk dibingkai
indah di kenangan.
-Pemandangan Sunrise di Puncak Slamet-
Setelah beberapa lama, kami pun turun karena lapar.
Menuruni tanjakan saat cahaya sudah menyapa bumi selalu membuat kami tertegun, menampar
kami dengan realita tentang berapa jauh kita telah berjalan dari titik awal,
seberapa jauh kita telah berjuang menahan ego dan kebimbangan untuk berhenti,
namun berjuang untuk tetap mendaki.
-Pemandangan di Puncak Slamet-
Sesampainya di camp, kami segera beberes dan bersiap
melanjutkan perjalanan. Setelah makan beberapa snack yang kita bawa, kita pun
langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 1. Di perjalanan saya mendapat
pandangan yang berbeda saat melihat pendaki lain yang mendaki ke atas sementara
kita turun dengan cepat. Paras mereka yang lelah mengingatkan saya akan kondisi
yang sama ketika saya mendaki, penuh kebimbangan antara lanjut atau berhenti.
Melalui ekspresi mereka, saya menangkap warna baru, warna merah.. Warna ini melambangkan keberanian, tak pantang
menyerah, dan semangat yang membara, seperti yang terpancar dari mata mereka. Mungkin
pada dasarnya semua orang punya warna merah dalam diri mereka masing-masing,
namun ada kalanya kita meragukan warna yang kita punya, entah apa alasannya
sehingga warna itu tak lagi berkobar dalam pancaran mata kita lagi.
Kita pun sampai di pos 1 dengan cepat, ya memang lebih
enak turun daripada naik. Kita berjumpa lagi dengan Ibu Dika yang menyapa kami
dengan ramahnya, “Gimana dek, mantep to puncaknya?” Kami pun memutuskan untuk
makan siang di warungnya, sembari berbincang-bincang lagi. Sungguh mengejutkan
saat saya mengenal hidupnya lebih dalam, dia pernah hanya mendapat Rp 17.000,00
dalam sehari dia bekerja, tidak sebanding dengan usaha dan kerja kerasnya
membawa semua bahan hingga ke pos ini. Saya dan teman-teman saja sudah
keteteran dengan membawa sebuah carrier seberat 15kg, bagaimana rasanya apabila
jadi Ibu Dika yang membawa gas 3kg, bahan-bahan makanan, serta beberapa buah
yang sama sekali tidak ringan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya
menunggu seharin penuh dengan tenaga yang telah terbuang segitu banyak untuk
kembali pulang dengan upah yang tidak banyak itu.
Namun ada satu hal yang saya lihat di pribadi Ibu Dika,
sosok yang tidak pernah menyerah, sosok yang begitu tulus mencintai
pekerjaannya sehingga tidak pernah mengeluh dalam kesukaran hidupnya. Begitu
bahagianya dia ketika kami memborong jajanannya untuk makan siang. Ia
mengibaratkan kami seperti berkah yang datang dan membantu hidupnya, seperti
anak-anaknya yang nyaman diajak mengobrol.
Dari sosok seorang Ibu Dika, saya mendapat gambaran warna
hidup yang baru, yaitu warna putih.
Warna ini menunjukkan kedamaian, pencapaian diri, kedewaan,
kesederhanaan, dan persatuan. Warna ini saya dapat ketika mengenalnya lebih dalam, saya
dapat merasakan arti kesederhanaan yang tulus. Kehadirannya seperti memotivasi
saya untuk menjadi orang yang berbakti bagi sesama, seperti warna putih yang sangat
bagus untuk menampilkan atau menonjolkan warna lain. Warna putih ini sebenarnya
sudah saya rasakan dari kehadiran masyarakat sekitar semenjak dari Kota
Purwokerto, tapi baru saya sadari kehadirannya saat berbincang-bincang dengan
Ibu Dika. Setelah itu kami pun pamitan untuk
kembali memulai perjalanan setelah makan dan minum hasil tangannya yang tidak
kalah dengan masakan restoran bintang lima.
-Bersama Ibu Dika di Pos 1-
Sesampainya di basecamp
kami pun disambut lagi oleh Kang Didin dan teman-temannya dengan tawa di parasnya.
Kita pun melepas carrier yang tadinya kita rawat dan banggakan karena merknya,
namun di jalan kita maki-maki karna beratnya (haha), lalu berlomba menuju kamar
mandi. Saya sih hanya berbaring di pintu masuk, melihat gerakan awan dan Gunung
Slamet yang menjulang tinggi, membayangkan bahwa diri saya baru saja berdiri di
ujung yang jauh di sana, ternyata jauh juga kita telah melangkah.
Perenungan saya ini
mendapat satu buah pikiran yang aneh. Saya bingung kepada orang – orang di
daerah ini, jujur saya merasa mereka hebat. Bagaimana cara mereka hidup tanpa
merasa beban? Menjalani semuanya dengan rasa cinta yang tulus pada pekerjaan
mereka? Mencintai satu sama lain dalam tali persaudaraan yang kuat tanpa
memandang perbedaan? Saya merasa malu karena saya orang Jakarta, bukan karena
saya orang dari daerah kaya, tapi karena saya orang yang berasal dari daerah
yang tidak bermanusia. Lautan manusia memenuhi Jakarta, tapi mengapa ada perbedaan
yang sangat signifikan? Mengapa kadang saya merasa bahwa mereka yang terlalu
sibuk di kota metropolitan tidak berperilaku sebagai manusia lagi? Hanya beban
dan emosi yang tinggal dan mengendap di hati masing-masing, tidak ada lagi
cinta yang tulus. Sebagian besar diri saya ingin pindah, singgah selamanya ke
daerah seperti ini, jauh dari kata munafik, jauh dari tindakan jahanam, dan
lepas dari beban dunia kotor kota metropolitan, namun mungkin saja justru saya
yang aneh karna berpikiran seperti ini padahal teman-teman saya tidak.
Singkat kata, kami
istirahat, tidak terbayang bagaimana capeknya besok kita langsung lanjut ke
Gunung Sumbing tanpa jeda, tapi yasudahlah kita jalani dengan senyum saja.
Bagian 3 : Warna Unik
Gunung Sumbing
Paginya kita berangkat
menuju Basecamp Gunung Sumbing via Banaran dengan kendaraan dari basecamp
Slamet, dianter oleh Kang Anto dan Kang Didin. Perjalanan cukup jauh, di luar
perkiraan rundown saya. Setelah menyewa tenda di daerah Temanggung dan
menjemput Christie dan Shania, kita pun sampai di Basecamp Banaran.
Orang-orang di sana
menyambut kedatangan kami seperti keluarga, hangat dan bersahabat. Saya seperti
berpindah dari satu keluarga besar ke satu keluarga besar yang sama – sama
menerima saya. Kita pun berbincang – bincang dengan warga sana, bersama Kang
Didin dan Kang Anto pula yang beristirahat sejenak. Kegiatan mencari tahu
kehidupan sosial tempat kita mendaki sudah seperti menjadi ritual bagi
keberjalanan setiap perjalanan saya. Hal-hal baru yang saya dengar dan temukan
menjadi pelajaran-pelajaran hidup baru bagi saya dan teman-teman saya.
Sebelum kami naik,
kami pamitan dengan Kang Didin dan Kang Anto, dua orang hebat yang memberi saya
pandangan tentang warna kehidupan. Kita berjanji akan bertemu lagi dalam waktu
yang tidak lama, saya bahkan diajak untuk naik gunung bersama dan singgah ke
rumahnya sendiri untuk sekadar berbincang-bincang sambil ngopi.
-Bersama Kang Anto (Kiri) dan Kang Didin (Kanan)-
-Bersiap pendakian di Basecamp Sumbing via Banaran-
Dari kiri: Valen (Ocit), Felix (Poka), saya, Shania, Christie, Dillon
Dari kiri: Valen (Ocit), Felix (Poka), saya, Shania, Christie, Dillon
Setelah pamitan dengan mereka, juga dengan warga sana,
kita pun naik ojek menuju pos 0. Perjalanan ini penuh dengan rasa takut dan
tegang, tanjakan yang sangat tinggi dengan tanah yang licin dan kabut setebal
selimut membuat kita bertanya apakah ojek ini kuat untuk menanjak. Orang-orang
yang membawa motornya hebat juga, bisa
dengan lincahnya mendaki tanjakan yang licin tanpa rasa takut. Kita pun sampai
dengan selamat dan tetap bersemangat, walaupun kabut menutupi pandangan kami.
-Suasana kabut di Pos 0-
Kita diberitahu bahwa ada rombongan lain yang menaiki
gunung ini, berjumlah 11 orang dan hanya kita berdualah rombongan yang naik
hari ini. Ternyata tidak disangka bahwa kita berpaspasan dengan mereka di pos 0
ini, kita pun resmi menjadi satu-satunya regu yang naik Gunung Sumbing di hari
itu. Selama perjalanan, saya memimpin di depan dan tidak bisa melihat apapun
kecuali 5-10m depan kaki saya, sungguh seru ternyata kabut itu seperti di
film-film. Kita berjalan tanpa merasa lelah karena diselingi dengan canda tawa,
sungguh suasana yang saya rindukan.
Di perjalanan saya sudah mendapat feeling yang kurang
enak, terutama setelah melewati pos 2. Teman saya Poka yang menjadi sweeper
juga merasa kurang enak selama perjalanan, dia sesekali melihat ke belakang
untuk memastikan keadaan. Feeling saya pun benar, di perjalanan saya melihat
sosok gelap yang melintas dari pohon ke pohon dengan badan yang besar dan mata
yang menyala. Di situ saya merasakan warna
hitam. Warna ini gelap dan suram, warna yang melambangkan dunia sana, warna
yang melambangkan perasaan takut dan mencekam, warna yang membuat saya
menyadari bahwa hidup ini bukan hanya di satu dunia, dan warna yang membuat
saya menerima kehadiran mahkluk lain. Seperti kata mbah-mbah yang saya temui di
basecamp kaki Gunung Sumbing, kita akan melalui beberapa tahap yang tidak mudah
dalam hidup, kita harus dapat menerima diri sendiri, menerima lingkungan,
menerima alam, dan yang paling susah adalah menerima kehadiran mahkluk gaib di
sekitar kita. Namun, saya tidak bercerita kepada yang lain, saya mendorong
mereka untuk terus maju, walaupun akhirnya saya bertukar tempat dengan Poka
karena dia tidak kuat berada di belakang barisan.
Kita pun sampai di Pos 3, berupa shelter yang nyaman
untuk bermalam. Sebenarnya tempat kita camp ada di Pos 4, namun anak – anak
sudah capek untuk terus mendaki. Kita pun beristirahat setelah makan malam dan
saya bisa mendengar betapa nyenyak mereka tertidur. Subuhnya, kami mendengar
beberapa warga lokal yang naik juga, mereka ingin ziarah dan naik duluan
setelah beristirahat sejenak di pos 3. Warga di daerah Banaran ini memang unik,
di hari-hari tertentu yang menurut adat Jawa merupakan hari suci, mereka akan
mendaki Gunung Sumbing bersama-sama untuk berziarah. Setelah bangun lewat dari
waktu yang ditentukan, kita pun melanjutkan perjalanan ke puncak. Perjalanan ke
pos 4 kita lewati dengan lancar, kita pun sempat menikmati sunrise yang sangat
indah di pos 4, tanah lapang yang memuat pemandangan sejuta warna.
-Pemandangan Sunrise di Pos 4-
Setelah itu kita melanjutkan perjalanan ke puncak, namun
disinilah masalah melanda. Kita tersasar setelah 2.5 jam berjalan menuju ke
puncak, ternyata bukan ini jalannya, ini adalah jalan terabasan yang harus
menggunakan golok. Setelah capek hati dan pikiran karena berjalan tanpa batas,
kita pun memutuskan untuk berhenti. Di situ saya pertama kali merasakan
kesedihan di saat saya melihat keputusasaan di muka teman-teman saya, entah itu
raut kecewa atau tangisan.
Setelah beberapa lama kita berdiskusi, kita pun
memutuskan untuk turun, karena pertama tidak mungkin lagi kita sampai ke puncak
dengan jalur ini, kedua rasa capek yang telah dirasakan oleh teman – teman saya
sudah menumpuk hingga merasa down, ketiga cuaca yang kurang mendukung. Pertama
kali saya merasakan hati saya seberat ini, lalu di saat yang sedih ini saya
menemukan warna baru, yaitu warna kuning.
Warna ini melambangkan kesedihan/duka, warna yang membuat saya dengan berat hati
memutuskan untuk turun, warna yang mengikis hati saya karena melihat teman –
teman saya hancur perasaannya oleh mata saya sendiri, warna yang membuat hati
saya berteriak akan kesedihan di tiap langkah kaki saya berpijak saat
perjalanan turun.
Saya merasa diri saya tidak berguna, mengapa tidak dari
awal saya memutuskan untuk turun karena salah jalan? Mengapa saya tidak bisa
menjadi dewasa untuk memutuskan? Mengapa mengapa dan mengapa, hanya itu yang
terngiang di pikiran saya. Saya tidak mau kehilangan mereka, teman – teman yang
saya anggap keluarga, mereka yang menyusun teka-teki hidup saya sehingga ini
keputusan yang terbaik yang bisa diambil, tapi kenapa setiap langkahnya begitu
berat? Saya ingat saya sempat duduk termenung di antara semak belukar waktu
teman – teman saya yang lain turun, saya hanya melihat ke atas, melihat ke
bawah, dan melihat ke teman – teman saya, tidak ada lagi pikiran, tidak ada
lagi perkataan, hanya ada saya dan momen itu, momen yang tak mungkin saya
lupakan, momen dimana dunia menjadi diam, momen dimana saya menjadi benci akan
hidup, menjadi rapuh dalam suasana, menjadi larut dalam kesedihan. Mungkin Tuhan
sengaja memberikan cobaan ini pada saya untuk merasakan apa itu arti
kekecewaan.
Di perjalanan turun kami berpas – pasan dengan warga yang
tadi pagi beristirahat di pos 3 dan sudah sampai puncak hanya untuk menerima
kenyataan pahit bahwa kita salah jalan. Semua yang kami dengar, lihat, dan rasakan
saat itu sepertinya sudah tidak berguna lagi karena kami hanya ingin turun.
Belum lagi tiba-tiba hujan besar melanda waktu kita sedang turun, haha sungguh
lucu saat itu, kesialan datang satu persatu.
Kita pun terus berjalan turun, sampai di pos 3 untuk
bersiap – siap packing dan kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata kesialan
tidak berhenti sampai di situ, teman saya Christie dan Shania ketinggalan
pesawat karena kita turun di luar perkiraan rundown, hape Christie rusak dan
senternya hilang. Sesampainya di basecamp, kita sudah tidak ada niat untuk
berbuat apa-apa. Kita hanya duduk termenung, menikmati makanan dan teh hangat
di depan kita, dengan pikiran penuh kesialan saat itu.
Malamnya, saat semua terlelap, saya menyelinap keluar
bersama Dillon dan memutuskan untuk ngopi bersama orang – orang basecamp.
Perbincangan kami berlangsung hingga pukul 2 pagi, cukup membuat pikiran atas
kesialan ini menghilang dari diri kami. Sambil melihat bintang – bintang di
langit, saya mulai merasa bodoh akan diri saya. Mengapa saya sedih karena tidak
sampai puncak? Apa yang mendasari saya untuk melakukan perjalanan ini pada
awalnya adalah keluargaan yang saya rindukan. Mengapa saya sempat menyalahkan mereka
yang selama ini menemani saya dan
keegoisan saya sendiri? Selama ini saya mencari hal yang jauh padahal tujuan itu
ada di depan mata saya sendiri, bukan di puncak gunung yang saya kagumi dari
jauh, tapi terletak pada rasa hangat dari persaudaraan di kiri-kanan saya.
Ternyata warna kuning itu bukan
hanya melambangkan kesedihan dan duka, tapi juga keakraban, kekompakan,
kenyamanan, kekeluargaan, dan kebahagiaan. Ya, kebahagiaan saya memang terletak
di alam, tapi itu sirna, karena dasar dari semua kebahagiaan saya ada dalam
diri mereka yang kembali dengan selamat sampai di basecamp, mereka yang
menemani perjalanan ini dengan canda tawa penuh kenangan yang tak akan
terlupakan. Inilah warna terakhir yang melengkapi refleksi saya atas perjalanan
ini, inilah warna yang tidak bisa saya lihat dari awal karena keegoisan saya
yang membutakan saya. Warna kuning ini
menjadi salah satu dari tujuh warna
dasar kehidupan saya, yang saya temukan dalam diri teman-teman saya.
-Foto bersama Keluarga Baru Basecamp Sumbing via Banaran-
Bagian 4 : Penutup
Inilah sedikit dari kisah perjalanan saya dalam menemukan
tujuh warna kehidupan. Tujuh warna ini merupakan dasar dari proses kehidupan
saya yang terus menerus berkembang, selalu menemukan hal-hal baru yang pada
akhirnya akan menuntun saya untuk meraih tujuan hidup saya. Kita memang
mendapat hal-hal baru dari lingkungan, entah itu dari keluarga, alam, sekolah, ataupun
sesama, tetapi pada akhirnya yang menentukan nilai mana yang baik untuk
diterapkan dalam keberjalanan hidup adalah Anda sendiri. Proses ini hanya akan
dapat Anda alami melalui proses refleksi, proses yang memerlukan Anda untuk
berdiam sejenak, mengosongkan pikiran Anda untuk mereview kembali apa yang
sebenarnya akan Anda lakukan di dunia dan apa yang akan Anda ambil hikmahnya dari
nilai-nilai yang hari ini Anda dapatkan. Pada akhirnya, faktor utama yang akan
membimbing Anda dalam hidup adalah keputusan Anda sendiri, apa yang akan Anda
kejar adalah yang Anda tentukan sejak sekarang.
Semoga sedikit
permenungan dari kisah perjalanan saya ini bisa berguna bagi mereka yang
membacanya ataupun yang merasakannya. Selalu pertanyakan diri Anda mengenai
alasan mengapa Anda dilahirkan di sini karena hidup Anda terlalu singkat untuk tidak
berbuat apa-apa dan menyesali segala perbuatan Anda di akhirnya. Dunia ini
memang berat dan penuh beban yang harus Anda pikul. Beban itu akan menjadi
rintangan utama Anda yang akan membuat Anda melupakan proses menuju kedewasaan
diri ini.
Teruslah berjuang, jangan pernah anggap hal-hal kecil
yang terjadi di sekeliling Anda hal sepele, semua punya makna, sama seperti
Anda di dunia ini punya makna.
Benito
Rama
sikat lagi ben sedih gua bacanya
BalasHapus